Karakter Zaman Kaliyuga

Om Swastyastu

Yang saya sucikan para pinandita lanang lan istri, yang saya hormati bapak ibu orang tua siswa yang hadir bersembahyang bersama, yang saya banggakan anak-anak  siswa Pasraman Amrta Jati. Salam rahayu untuk kita semua, semoga kita selalu dalam lindungan Hyang Widhi Wasa.

Kali ini bapak akan menyampaikan dharma wacana yang berjudul, ”Zaman Kaliyuga”

Apakah anak-anak pernah mendengar istilah Kaliyuga? Baik, dalam ajaran agama Hindu kita mengenal perputaran kehidupan di alam semesta ini terjadi empat periode. Perputaran empat periode itu kita kenal dengan “Catur Yuga” empat zaman

zaman I = Kertayuga

zaman II = Tretayuga

zaman III = Dvaparayuga

zaman IV = Kaliyuga

Masing-masing yuga memiliki ciri kehidupan dan peradabannya masing-masing. Jadi setiap  yuga atau zaman itu bentuk kehidupannya berbeda-beda. Demikian juga dengan waktu, lamanya/keberlangsungan hidup setiap yuga/zaman. Seperti pada zaman Kertayuga rentang waktunya berlangsung selama 1.728.000 tahun. Zaman Tretayuga 1.296.000 thn, zaman Dvaparayuga 864.000 tahun, zaman Kaliyuga selama 432.000 tahun.

Nah anak-anak, kehidupan yang sekarang inilah yang disebut dengan zaman Kaliyuga. Zamannya dikatakan penuh dengan keduniawian. Kalau di zaman Kertayuga penuh dengan kebaikan/kebenaran, di zaman Tretayuga zamannya ilmu pengetahuan dan pada zaman Dvaparayuga zamannya zaman yajna.

Pada zaman Kaliyuga hal yang paling bermanfaat/utama yang harus dilakukan oleh kita umat Hindu adalah banyak “berdana/menyumbang”. Menyumbang dianggap perbuatan yang paling utama di zaman Kaliyuga. Itu kalau dari sisi kebaikan atau sisi agama. Tetapi kita tahu sekarang ini banyak sekali orang-orang yang jahat; mencuri, merampok, menyakiti anak-anak. Yang sangat heboh beritanya belakangan adalah ada orang-orang dewasa yang melakukan kejahatan kepada anak-anak. Anak-anak diculik dujual ke luar negeri, bahkan anak-anak diperjualbelikan seperti barang dstnya. Apakah anak-anak mau mengalami perlakuan seperti itu? Pastinya tidak. Nah bapak bagikan tips agar terhindar bertemu dengan orang-orang seperti itu alias selalu mendapatkan perlindungan dari Hyang Widhi;

  1. Selalu bangun pagi sebelum Matahari terbit
  2. Disiplin melaksanakan sembahyang Tri Sandhya yang dilanjutkan dengan berjapam beberapa menit (pagi dan sore)
  3. Setiap hendak beraktifitas, mengucapkan doa
  4. Berbakti kepada orang tua
  5. Berbuat baik kepada siapa saja tetapi tetap berhati-hati

Demikianlah dharmawacana bapak kali ini, bapak akhiri dengan paramasanti

Om Santih Santih Santih Om

*) Disampaikan oleh I Wayan Suidana pada persembahyangan bersama sebelum memulai pelajaran di Pasraman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: