Berbhakti Kepada Guru Rupaka

Om Swastyastu

Yang saya sucikan para pinandita lanang lan istri, yang saya hormati bapak ibu umat sedharma yang sudah berkenan bergabung di sini dan yang saya banggakan adik-adik pemuda sekalian

Salam rahayu, semoga kita semuanya dalam lindungan Hyang Widhi Wasa.

Sebelumnya, untuk kesekian kalinya, perkenalkan dumun nama saya I Wayan Suidana, saya adalah salah satu petugas penyuluh mewakili Bimas Hindu DKI untuk wilayah Jakarta Selatan khususnya di lingkungan Cinere,

Mohon ijin, pagi ini saya menyampaikan dharma wacana dengan mengambil judul

“Berbakti Kepada Guru Rupaka”

Mengapa materi ini saya angkat? Latar belakangnya adalah fenomena anak-anak, putra putri kita yang tidak mampu menyadari kesalahan bahkan tidak bisa menerima fakta kesalahan sehingga sangat berani kepada orang tua. Atau istilah lainnya anak tidak menaruh  hormat kepada kita. Di era  milenia ini tidak hanya saya, saya yakin bapak dan ibu juga demikian merisaukan perilaku seperti itu,

nah saya langsung saja kepada adik2 semuanya, mohon menjadikan hal itu sebagai perhatian yang serius bahwa pentingnya memelihara rasa bhakti kepada orang tua. Lebih lanjut kepada bapak2 dan ibu bisa jadi fenomena yang terjadi mungkin saja tidak semata-mata kesalahan dari anak2, bisa juga karena kita para orang tua dan para pendidik yang kurang menekankan pendidikan ke arah budi pekerti kepda anak2 kita

Kita memang harus mengevaluasi ulang dibagian mananya yang sesungguhnya kita lemah, kita yang kurang peka atau pergaulan anak2 kita yang sudah kebablasan

Itu yang pertama

Nah saya sebagai petugas yang dimandatkan (aapteya) begitu istilahnya di dalam bahasa sansekerta, hanya bisa berbagi masalah dan mencoba menjembatani masalah yang kita hadapi, kira-kira jamu yang mana yang pas kita lakukan berkaitan dengan keadaan anak yang sudah terlanjur demikian.

Saya tidak berani mengatakan ini tip jitu, karena cara pendekatannya pastilah berbeda-beda.

Sekedar sebagai pembanding/pedoman mungkin, saya coba ceritakan sedikit “kisah seorang anak yang di buang oleh orang tuanya di Hutan. Kisah ini saya tonton di youtube. Ceritanya demikian; Terdapat sebuah keluarga miskin di Cina, pekerjaan sehari-harinya menjadi kuli angkat Kayu ke Mobil Truck. Mereka punya anak satu-satunya perempuan. Masa kecil anak ini gembira dan terus gembira walaupun orang tuanya hidup miskin. Yang membuat saya lebih salut lagi, peristiwa buruk terjadi kepada kedua orang tuanya. Ayahnya sedikit terganggu ingatannya akibat kejatuhan balok kayu dan ibunya entah kenapa tiba-tiba saja hilang ingatan. Ayahnya yang sedikit terganggu ingatan, beruntung masih mempunyai kesadaran untuk merawat istri dan anaknya. Anaknya ketika itu berusia 7 tahun. Ayahnya yang pagi-pagi sudah berangkat memikul kayu tidak bisa menyiapkan makanan untuk anak karena memang harus bekerja terlebih dahulu.

Sekarang bagian cerita pentingnya, saya sangat salut ketika ada seorang reporter tv datang mewawancarai si anak yang dijumpainya sedang memasak

Reporter = kamu bisa memasak?

Anak = bisa dong

Reporter = siapa yang mengajari kamu memasak?

Anak = tidak ada

Reporter = tapi kok bisa

Anak = sering lihat ibu

Maaf saya stop ceritanya sampai di sini bapak, ibu2. Karena inti ceritanya sudah kita dapatkan, walaupun kisah itu masih berlanjut. Tetapi intinya di sini, anak sifatnya meniru. Ibunya belum pernah mengajarkannya memasak tapi anaknya bisa melakukannya karena sering melihat ibunya memasak.

Itulah bapak-bapak ibu-ibu, kisah itu menginspirasi saya dan saya coba terapkan di rumah. Saya sekarang menghindari banyak menasehati tetapi saya melakukannya di depan anak saya

Hasilnya? Saya mohon maaf, saya tidak dapat menceritakannya di sini karena takut juga saya akan menjadi sombong

Sekian Dharmawacana saya kali ini, saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih dan mudah-mudahan bermanfaat

Sebelum saya berpamitan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada hal yang kurang berkenan

Om Santih Santih Santih Om

*) Disampaikan oleh I Wayan Suidana pada persembahyangan bersama sebelum memulai pelajaran di Pasraman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: