Belajar Dari Kisah Arunika, Utamanyu dan Weda

Om Swastyastu

Yang saya hormati bapak ibu orang tua yang turut hadir di wantilan ini, yang saya cintai adik-adik pemuda pemudi dan yang saya banggakan anak-anak  siswa Pasraman Amrta Jati. Salam rahayu untuk kita semua, semoga kita selalu dalam lindungan Hyang Widhi Wasa.

Perkenalkan nama saya I Wayan Suidana, petugas yang mewakili Bimas Hindu DKI untuk Jaksel untuk menyampaikan dharma wacana yang mengambil judul  “Belajar Dari Kisah Arunika, Utamanyu dan Weda”

Dikisahkan seorang brahmana yang bernama Bhagawan Dhomya, melakukan pertapaan di Negara Ayodhya. Beliau memiliki tiga orang murid yang bernama sang Utamanyu, sang Arunika, dan sang Wedha. Mereka bertiga akan diuji ketaatan dan baktinya kepadasang guru. Yang pertama diuji adalah sang Arunika, ia disuruh untuk bersawah sebelum diberikan ajaran dharma oleh Bhagawan Dhomya.

Dengan hati-hati danpenuh kesabaran sang Arunika mengerjakan tanggung jawab sawah yang diberikan kepadanya. Suatu ketika benih yang ditanamnya mulai tumbuh dengan subur, hingga suatu ketika hujan turun dengan lebat dan mengakibatkan air bah yang siapmenenggelamkan sawahnya. Dengan penuh perjuangan dan usaha keras, ia berusaha membuat pematang untuk menghalangi air bah tersebut, berulangkali ia berjuang mempertahankan pematang yang mulai tidak tahan menahan air bah tersebut.

Akhirnya dalam ketidak berdayaan ia merebahkan diri dan menelentangkan tubuhnya untuk menahan pematang sawah yang sudah mulai jebol. Siang malam ia tetap tidakbergerak hanya ada satu tujuan untuk mempertahankan sawah yang digarapnya,sebagai bentuk ketaatan dan bakti kepada sang guru. Hingga akhirnya Bhagawan Dhomya menyaksikan perjuangan sang Arunika, kemudian beliau menyuruh sangarunika untuk bangun. Bhagawan Dhomya bersabda ‘bangunlah engkau sang arunika,mulai saat ini namamu adalah sang Uddalaka, karena menelentangkan tubuhmu didalam air sebagai tanda bhakti kepada gurumu.

Setelah menguji sang Arunika, kemudian Bhagawan Dhomya menguji sang Utamanyu dengan menyuruhnya menggembalakan lembu. Berhari-hari sang Utamanyu menggembalakan lembu tanpa berbekal makanan, hingga akhirnya ia kelaparan tidak mampu menahan rasa laparnya. Sang Utamanyu kemudian meminta-minta makanan kepada penduduk,hasil meminta-minta tersebut ia makan sendiri tanpa diserahkan kepada gurunya.Akhirnya diketahuilah tingkah laku sang Utamanyu oleh Bhagawan Dhomya, beliaubersabda ‘Anakku sang Utamanyu ! tingkahlaku seorang murid yang berbakti kepada gurunya adalah menyerahkan segala yang didapatnya kepada gurunya, semuahasil dari meminta-minta tidak pantas menjadi makananmu’.

Sang Utamanyu kemudian meminta maaf atas segala kesalahan dan memberi hormat kepada gurunya. Keesokan harinya ia mulai menggembalakan lembu kembali dan meminta-mintamakanan kemudian hasil meminta-minta tersebut diserahkan kepada gurunya, namunselama menggembalakan lembu, sang Utamanyu kembali meminta-minta untuk dimakannya sendiri. Prilaku sang Utamanyu kemudian dilarang oleh gurunya,karena dianggap loba dengan meminta-minta kedua kalinya.

Dengan penuh keputusasaan sang utamanyu yang menahan lapar akhirnhya melanjutkan menggembala lembu tersebut, untuk menanggulangi rasa laparnya, ia meminum susu sisa dari anak lembu yang menyusu kepada induknya. Hal inipun diketahui oleh Bhagawan Dhomya, beliaupun akhirnya berkata kepada muridnya ‘Aduh anakku sang Utamanyu,makin tidak pantas saja tingkah lakumu, tidak sepantasnya seorang murid mengambil sesuatu yang menjadi milik gurunya’.

Sang Utamanyu kembali melanjutkan tugasnya, mulai saat ini ia memutuskan untuk tidak lagi meminum susu sisa dari anak lembu yang menyusu kepada induknya, namun ia menjilati buihyang keluar dari mulut anak lembu yang habis menyusu, dengan cara itulah ia mencoba menghilangkan rasa laparnya. Ketika pulang dari menggembalakan lembu,Bhagawan Dhomya bertanya kepada Utamanyu, apa yang menjadi makanannya ketika menggembalakan lembu, Utamanyu menjawab bahwa yang menjadi makanannya adalahbuih yang telah jatuh ketanah.

Bhagawan Dhomya kemudian berkata ‘ tidak sepantasnyalah itu menjadi makanannya, karena anak lembu tahu akan rasa laparmu, maka ia berbelas kasihan terhadapmu dengan memuntahkan air susu yangmenjadi makanannya, walaupun itu berupa buih tidak sepantasnya engkau turut menikmati makanan orang lain. Yang tidak patut menjadi penghidupanmu tidaksepantasnyalah engkau nikmati, karena akan membuat anak lembu menjadi kurus’. Sang Utamanyu kemudian menyembah, keesokan harinya ia melanjutkan tugas untuk menggembalakan lembu, karena rasa lapar ia memakan getah daun waduri yangrasanya panas, hal ini mengakibatkan matanya menjadi buta, tiada lagi tahu arahlebih-lebih lembu-lembunya.

Sang Utamanyu berusaha terus berjalan hingga ia terperosok jatuh kedalam sumur tua yang mati. Malam harinya kawanan lembu itupulang kekandangnya tanpa didampingi Utamanyu, hal ini diketahui Bhagawan Dhomya dan kemudian bergegas mencari muridnya. Setelah diketemukan, Bhagawan Dhomya bertanya kenapa hingga bisa terjadi seperti ini, Utamanyupun menceritakan semua yang dialaminya. Akhirnya Bhagawan Dhomya menganugrahkan mantra Dewa Aswino untuk diucapkan, akhirnya Sang Utamanyupun sembuh dan diberikan anugrah ilmu yang sempurna oleh sang Guru.

Kemudian ujian dilanjutkan lagi oleh Bhagawan Dhomya dengan menguji sang Weda. Ia disuruh tinggal didapur untuk menyediakan segala hidangan kepada sang Guru.Sang Weda melakukan seluruh tugas-tugasnya dengan kepatuhan, dan kesungguhan sebagai wujud bakti pada sang Guru. Ia selalu mampu melaksanakan segala tugas yang diberikan, hingga gurunya benar-benar merasa puas atas bhaktinya, kemudian ia diberi anugrah ilmu yang sempurna.

Dari cerita di atas, apa yang dapat kita pelajari dan dapat kita tiru serta kita terapkan dalam kehidupan moderen seperti sekarang ini. Apakah ini masih relevan? Atau bahkan ini seharusnya menjadi sebuah metode atau strategi kita untuk melakukan filter terhadap perkembangan tekhnologi dan budaya yang sedemikian mengaburkan nilai-nilai lokal yang selama ini dianggap cukup baik. Sebagaimana yang disadari sekarang, “belajar” khususnya belajar agama mulai terlihat kendur, melemah di kalangan anak-anak siswa dan anak-anak muda. Hal itu terlihat dan diketahui, “ketika mendapatkan pertanyaan atau diskusi tentang agama, seringkali anak-anak muda Hindu tidak mampu berdiskusi dengan baik atau diskusi tidak berjalan seimbang”. Demikianlah secara garis besar dari kenyataan yang ada di lingkungan kita. Dan melalui kisah Uddhalaka, Uttanka dan Weda, kita jadikan sebagai bahan renungan sekaligus membuka kembali kesadaran kita tentang pentingnya belajar dan memahami agama Hindu secara konprehensif

Saya tutup dharmawacana saya dengan mengucapkan paramasanti

Om Santih Santih Santih Om

*) Disampaikan oleh I Wayan Suidana kepada siswa pasraman di Wantilan Pura Amerta Jati Cinere

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: